Komunitas Sumedang In Move bersama Pemerintah Desa Pakualam Kecamatan Darmaraja melakukan pengecatan tahap pertama di Cisema, Minggu (27/8). Mereka mulai mengeksekusi lokasi yang diberi nama Kampung Buricak Burinong untuk mewujudkan mimpi destinasi wisata selfie kelas dunia.

Hari itu menjadi hari istimewa bagi Komunitas Sumedang In Move karena mimpi besar untuk mewujudkan Kampung Buricak Burinong sebagai destinasi wisata selfie kelas dunia akan segera terealisasi.

Pembangunan Kampung Buricak Burinong akan berbasis masyarakat. “Nantinya Kampung Buricak Burinong berbasis masyarakat. Sebab, inisiatif, penganggaran, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi dilakukan oleh warga,” kata Ketua Tim Pengarah Sumedang In Move Herman Suryatman, dikutip dari jpnn (30/8).

Menurut Herman, pembangunan berbasis masyarakat sudah menjadi bagian dari budaya Sunda.

“Yakni, aktualisasi dari nilai rempug jungkung sauyunan. Modal sosialnya sudah tersedia di tengah-tengah masyarakat. Kami hanya menggalinya kembali,” kata Herman.

Kampung Buricak Burinong diyakin akan mendongkrak industri pariwisata di Sumedang. Dimana ketika industri pariwisata membaik, sektor usaha lainnya juga bakal mendapat dampak positif. Salah satunya adalah para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

“Kita tidak bisa berpangku tangan. Kalau Sumedang ingin maju dan hebat, ya, semuanya harus bergerak. Semua komponen daerah harus mengambil peran,” ungkap Herman.

Proses pengecatan akan dilakukan secara bertahap. Dari sekitar target 148 rumah di lingkungan Dusun Cisema, Desa Pakualam, Kecamatan Darmaraja, Sumedang, pada tahap pertama akan dicat sekitar 61 rumah dengan gradasi tiga warna dari sembilan warna yang telah direncanakan.

Proyek itu membutuhkan cat sekitar lima ton. Sedangkan saat ini, merea masih mengumpulkan cat sebanyak tiga ton. Kekurang cat ini diharapkan bisa ditambal dari sumbangsih warga Sumedang.

Berbagai pelatihan dan pembangunan spot selfie akan dilakukan setelah pengecatan selesai. Dalam jangka pendek, pihak tm pelaksana akan menggelar tiga pelatihan, yakni tata boga, sablon, dan pariwisata.

Pendapat Anda