Adanya laporan bahwa terjadi pembakaran dengan sengaja desa-desa yang menjadi tempat tinggal bagi warga Rohingya di Rakhine, Myanmar yang dilakukan oleh pasukan militer negara itu (29/8) membuat Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu angkat suara.

Menuutnya, harus ada solusi permanen untuk mengatasi krisis Rohingnya di sana. “Dulu ada serangan serius terhadap Rohingya, tapi masalahnya sistematis. Saudara-saudara Rohingya telah mendapat tekanan, penganiayaan, dan dideportasi,” ujar Cavusoglu dalam sebuah konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Maladewa Mohammad Asim di Ankara, seperti dilaporkan laman Anadolu Agency.

Cavusoglu meminta masyarakat internasional dan negara-negara Islam untuk menunjukkan kepekaan terhadap isu dan tindakan tidak manusiawi yang dialami Muslim Rohingya.

“Kami memanggil negara-negara Muslim dan pemimpin mereka dari sini. Kita tidak boleh diam dalam hal ini. Mari kita tunjukan kepekaan kita,” katanya.

Dia juga mengajak unuk membuat peringatan yang diperlukan terhadap Myanmar. Menurutnya, semua institusi seperti PBB, Badan Pengungsi PBB, dan Organisasi Internasional untuk Migrasi harus mengambil langkah tegas untuk sebuah solusi.

Kekerasan terhadap muslmim Rohingya di Rakhine kembali merebak setelah terjadi serangan terhadap pos-pos perbatasah oleh gerilyawan Rohingya pada Jumat (25/8) lalu.  Sebanyak 77 gerilyawan, 10 polisi, serta satu tentara Myanmar tewas dalam peristiwa tersebut.

Pascakejadian tersebut, dilansir dari Republika (31/8) beberapa media melaporkan bahwa pasukan keamanan Myanmar mulai melakukan tindakan represif terhadap Rohingya. Ribuan penduduk desa Rohingya direlokasi dan rumah-rumah mereka dibakar dengan mortir dan senapan mesin.

Kekerasan yang terjadi terhadap Rohingya pertama kali terdengar pada 2012 lalu yang telah membuat setidaknya 140 ribu warga dari etnis tersebut tewas. Kemudian yang terbaru pada Oktober 2016, di mana menyebabkan sekitar 70 ribu warga etnis itu melarikan diri ke Bangladesh untuk menghindari operasi militer Myanmar di Rakhine.

Ini dapat dilihat dari laporan PBB yang diterbitkan tahun lalu. Dimana  menyatakan bahwa telah terjadi pelanggaran hak asasi manusia terhadap Rohingya oleh pasukan keamanan Myanmar, yang mencakup kejahatan terhadap kemanusiaan.

PBB mendokumentasikan terjadinya pemukulan, pemerkosaan, dan pembunuhan massal, termasuk pembunuhan terhadap bayi dan anak kecil secara brutal. Perwakilan Rohingya menyebut sekitar 400 orang tewas dalam operasi keamanan militer Myanmar yang terjadi Oktober 2016 lalu.

 

Pendapat Anda