Akhir tahun yang diakhir dengan bulan berakhiran –ber, biasa dikenal dengan musim penghujan, yang kadang berakibat banjir dibeberapa wilayah. Namun hal ini tidak dirasakan  ratusan warga di Dusun Pelangkerep, Desa Sumber Kare, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo Jawa Timur yang terpaksa harus mengkonsumsi air yang kurang bersih di tiga bulan terakhir ini. Pasalnya ini terjadi lantaran kekeringan melanda wilayah tempat tinggal mereka.

Kekeringan yang dialami semakin hari semakin memburuk. Inilah yang membuat warga harus mengambil air dari sisa resapan air sungai yang telah mengering. Memang, kondisi geografis dusun tersebut berupa bukit gersang. Sehingga untuk mencukupi kebutuhan air bersih, terutama saat kemarau seperti saat ini, para warga terpaksa harus menggali tanah di daerah aliran sungai yang telah mengering.

Galian sedalam 30 sentimeter itu yang dimanfaatkan warga untuk mengambil air sedikit-demi sedikit menggunakan gayung plastik, yang dilakukan secara perlahan, agar kotoran dari tanah di sekitarnya tidak turut serta.

Sedangkan untuk kebutuhan mandi, warga memanfaatkan sisa genangan air sungai yang warnanya hijau. “Ya mau bagaimana lagi, kalau kekeringan seperti ini terpaksa kami ambil air dari dasar sungai,” kata Nenek Urso, tulis laman liputan6 (29/9).

Wanita berusia 70 tahun ini mengatakan, sebetulnya bantuan dari pemerintah ada, berupa dropping air bersih. Namun, pembagiannya sekitar pukul satu dini hari. Selain itu, lokasi pembagian biasanya berada di sekitar jalan raya saja, yang jauh dari rumahnya.

“Tidak pernah kebagian, karena saya sudah tua. Jadi ya terpaksa pakai air dari sisa sungai ini saja,” ungkapnya.

Secara keseluruhan, Desa Sumberkare memang tidak mengalami kekeringan seperti di Dusun Pelangkerep ini. Di dusun lain, ada fasilitas pompa air bor. Namun untuk menikmati fasilitas tersebut, warga harus membayar uang solar untuk pompa sebesar Rp 40 ribu tiap bulannya. Itupun hidup tiap lima hari sekali, dan memenuhi tandon penyimpanan air sebanyak 750 liter.

“Itupun airnya tidak cukup untuk bertahan selama lima hari. Jadi agar cukup, kami gunakan untuk minum dan memasak saja. Sementara mandi, kami gunakan air dari dasar sungai. Selain itu, harganya juga mahal bagi kami,” kata Supina, salah satu warga.

 

Pendapat Anda