Sumatera Utara adalah provinsi yang besar dengan potensi sumber daya alam yang berlimpah dengan kualitas SDM yang bisa diandalkan. Namun apalah artinya potensi – potensi tersebut jika provinsi terbesar ketiga di Indonesia ini tidak memiliki pemimpin yang tegas dan kredibel?

Hal itulah yang belakangan ini terjadi di Sumatera Utara, dalam 2 periode kepemimpinan Gubernur sebelumnya, masyarakat Sumut harus sesak dadanya karena 2 gubernurnya masuk penjara gara – gara kasus korupsi. Akibatnya, pembangunan terhambat, masalah semakin banyak.

Lantas, kepemimpinan seperti apa yang sebenarnya dibutuhkan di Sumatera Utara? Sudah beberapa kali ganti Gubernur, tapi tidak juga membawa perubahan yang begitu signifikan di Sumut, apa yang salah?

Masyarakat Sumut Yang Majemuk

Untuk menemukan jawabannya, marilah terlebih dahulu kita memahami seperti apa karakter masyarakat Sumut ini sebenarnya. Seperti diketahui, Sumut merupakan wilayah yang sangat luas, dengan berbagai macam suku, ras, budaya dan agama yang sangat beragam.

Sumut tumbuh dan besar sebagai provinsi dengan keragaman budaya yang sangat majemuk, tidak hanya Batak, Melayu, Jawa, Mandailing, Minang, bahkan etnis – etnis seperti Arab, India Tamil, Tionghoa dan lain sebagainya ikut tumbuh dan hidup berdampingan sebagai masyarakat Sumut hingga berpuluh – puluh tahun.

Oleh karena itulah, salah besar jika muncul anggapan bahwa Sumatera Utara itu hanya Batak atau Melayu saja, meskipun Batak dan Melayu adalah suku mayoritas di Sumut, bukan berarti masyarakat Sumut itu adalah Batak ataupun. Hal inilah yang kerap kali menimbulkan kesalahpahaman bagi mereka yang tidak mengenali Sumut secara menyeluruh.

Belajarlah Dari Sejarah

Untuk mewujudkan kerukunan masyarakat yang majemuk itu tidak mudah, apalagi dengan akses daerah begitu luas. Seperti diketahui, masyarakat Sumut dikenal sangat keras dan ketat pada budaya dan tradisi mereka masing – masing.

Agar bisa mengelola karakter masyarakat seperti itu, dibutuhkan sosok yang tegas serta terbiasa turun ke beberapa daerah berinterakasi dengan masyarakat sekaligus turut serta mengenali tradisi budaya masyarakat yang dikunjunginya.

Sejarah mencatat, sosok pemimpin berlatar belakang militerlah yang berhasil memimpin Sumut dengan segudang prestasi yang gemilang. Sebut saja seperti Mayjen TNI Marah Halim Harahap, Letjen Kaharuddin Nasution, Mayjen TNI EWP Tambunan dan Mayjen Tengku Rizal Nurdin.

Beberapa nama tersebut merupakan suatu fakta sejarah bahwa Sumut saat ini merindukan sosok pemimpin berlatar belakang militer. Karena selain tegas dan berwibawa, sosok pemimpin berlatar belakang militer juga terbiasa terjun ke lapangan menjumpai masyarakat.

Pada momen Pilgubsu 2018 inilah, kita ditawarkan salah satu sosok putra Sumut terbaik yang kelak dipilih menjadi calon Gubernur Sumut, yakni Letjen TNI (Purn) Edy Rahmayadi. Sosoknya yang tegas, berwibawa dan dekat dengan masyarakat inilah yang nantinya akan mengobati kerinduan kita pada sosok pemimpin berlatar belakang militer yang kelak akan mengusung perubahan di Sumut.

Mari kita kembalikan kejayaan Sumut, belajarlah dari sejarah! Sumut harus berubah dan sejarah sudah mencatatnya, kita membutuhkan ERAMAS untuk mewujudkan Sumut Bermartabat.

Pendapat Anda