Anak perempuannya baru saja wisuda dari Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara. Dia sisihkan waktu di jadwal kampanyenya untuk menghadiri wisuda putrinya itu di Convention Hall Hotel Shantika Medan pada Mei lalu.

Lalu, saat pembagian rapor anak laki-lakinya di SMA Negeri 1 Medan, almamaternya dulu, dia tampak duduk bersama orang tua dan wali murid yang lain. Dia luangkan waktu di tengah-tengah jadwal kampanyenya bulan ini yang pasti sangat-sangat padat.

Adalah sebuah kebanggaan bagi kita warga Sumatera Utara dengan pilihan sikap Edy Rahmayadi tentang pendidikan putra-putrinya. Dia menyekolahkan putra dan putrinya di kampung halaman sendiri di tengah kesanggupannya secara ekonomi menyekolahkan mereka di luar negeri.

Tentu, tidak ada larangan menyekolahkan anak ke luar negeri. Tapi pendidikan bukanlah sekedar memenuhi kebutuhan kognisi melainkan lebih luas dari itu. Pendidikan anak negeri adalah membentuk pemahaman yang mendalam mengenai lingkungan asal sendiri, tahu lebih dalam persoalan-persoalan di mana dia hidup dan berkembang.

Memahami lingkungan kampung halaman tidak bisa semata-mata diajarkan lewat buku-buku atau googling internet semata. Beri dia lingkungan untuk itu. Beri dia kebudayaan. Dia lebih merasuk ke pori-pori intelejensia, memerkuat landas berpikir dan bersikap, serta membentuk pola budaya yang dihasilkan melalui interaksi yang kuat dan terus-menerus. Pendidikan bukan soal satu lima hari.

Kau tidak bisa langsung datang ke suatu daerah dan mengklaim diri mampu memahami pola pikir, sikap, perilaku, motif-motif dan asbab budaya suatu kaum, suatu daerah. Kau tidak langsung menjadi putra suatu daerah hanya karena kau baru punya KTP.

Kau harus menyatu dengan alam sekitar kampung itu secara langsung. Hiruplah udara dan wangi bunga-bunganya. Tataplah hijau daun-daun pepohonannya. Rasakan panas sengatan mataharinya dan mandilah di bawah kucuran hujannya. Renangilah sungai yang jernih dan bersih, dan kesallah pada yang berair coklat, kotor dan busuk penuh sampah. Semua yang kau rasakan, akan mengendap dalam laci-laci memorimu. Orang Minang mengatakan alam takambang menjadi guru.

Alam itu bukan hanya bersifat lingkungan hidup, melainkan juga alam sosial dan budayamu. Mengantri dalam kemacetan kota-kotamu, menyusur lorong-lorong sempit, menelusur jalan via angkutan umum, sepeda, kereta ataupun mobilmu. Lalu merasakan makanan minuman khas kampungmu setelah lelah bermain bola di lapangan rumput asli maupun sintetis, berlantai semen hingga tempat penuh kerikil. Kau akan hafal fenomena itu semua tanpa perlu dieja.

Saat kau duduk nongkrong di warung-warung kaki lima ataupun cafe dengan teman-teman segenerasimu, kau mungkin akan berjumpa dengan kawan sekampungmu yang lain yang waktu itu mungkin kau belum tahu siapa namanya, di mana gang rumahnya.

Sesekali, mungkin kau akan merasakan perkelahian dengan teman atapun lawanmu hanya karena bertatap mata. Ada yang pernah berkelahi, ada pula yang berusaha menghindar dan tentu akan ada yang lari. Lalu, setelah itu, kau pun akan menerima nasehat dari orang tua, tetua, agar jangan melampaui batas dalam pergaulanmu. Namun, hal-hal seperti itu pula yang akan membentuk karaktermu seperti kebanyakan orang-orang di kampungmu.

Gara-gara itu pula, kau akan tahu pula bagaimana membedakan tatapan khas warga kampungmu, mana membereng dan mana pula mengerling. Kau akan hafal intonasi dan dialek khusus orang-orang di kampungmu. Saat kau berada di daerah lain, kaupun paham, mana kawan sekampungmu dan mana yang bukan. Kau dilatih bersikap.

Sikap yang akan sangat kau butuhkan untuk membangun kampungmu sendiri. Sikap yang menumbuhsuburkan rasa memiliki yang kukuh, rasa yang selalu membuatmu rindu ingin pulang mudik ke kampung halaman.

Sikap yang akan mampu membuat kau tegak berdiri membela kehormatan kampungmu. Sikap yang akan membuatmu memilih menjadi tuan ataukah hatoban.

Pendapat Anda