Siapakah yang layak kita sebut Bapak Pancasila di Sumatera Utara? Mari kita kaji dan ukur butir perbutir Pancasila. Sila pertama -Ketuhanan yang Maha Esa-. Tokoh yang mampu tidak mengadaikan imannya untuk hal yang dilarang oleh sang pencipta, sosok yang takut dengan adanya Tuhan.

Kita tentu ingat kata Edy Rahmayadi saat menyampaikan closing statement pada acara debat publik perdana calon Gubsu yang digelar KPU Sumut, “Dalam menjalankan tata kelola pemerintahan, kami dibimbing oleh iman, kami tidak akan gadaikan iman yang dimiliki. Kami juga tidak akan menggangu iman orang lain,”. Adanya statement seperti ini merupakan bentuk kejujuran dari seorang pemimpin untuk rakyatnya.

Butir Kedua –Kemanusiaan yang adil dan beradab-. Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.

Edy Rahmayadi Pernah memimpin Sumatera Utara sebagai Pangdam BB/I beliau dikenal pemimpin militer yang harmonis, gaya pemimpin yang menjamu segala lapisan masyarakat apalagi dari sejak kecil beliau di latih oleh orang tua dan keluarganya akan nilai kesetiakawanan yang tidak membedakan dari mana asalnya.

Butir Ketiga -Persatuan Indonesia-. Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi dan golongan.

Sebelumnya kita mendapatkan sajian kampanye hitam yang memberitakan kalau Edy Rahmayadi di Baptis di Gereja hanya untuk jabatan. Berita yang sebenarnya kalau Edy Rahmayadi didoakan oleh Para Pendeta di Sumatera Utara karena para Pendeta menyakini kalau Edy Rahmayadi sosok pemersatu dan kedamaian Sumatera Utara.

Butir Keempat. -Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan-. Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama.

Kurang lebih sudah 32 Tahun masa bakti Edy Rahmayadi berbakti didunia militer, dilatih kepemimpinan, kedisiplinan hingga Jiwa Korsa (senasib sepenanggungan militer). Walaupun kita tahu kalau dimiliter itu memakai sistem komando namun iya telah membuktikan kepemimpinan sipil di PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia), beliau mengakomodir keinginan anggota PSSI dan mengutamakan musyawarah untuk mecapai mufakat.

Sehingga kita lihat sendiri prestasi sepakbola semakin meningkat, organisasi PSSI semakin membaik mengedepankan kepentingan bersama dan kita juga bisa kembali menonton pertandingan sepakbola di televisi rumah kita sendiri. Kalau bukan karena jiwa membangun bersama Edy Rahmayadi mungkin sampai sekarang Sepak Bola kita masih dihukum oleh FIFA.

Butir Kelima -Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia-. Mengembangkan perbuatan yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan untuk membangun setiap sudut di Republik ini.

Masyarakat di Kabupaten Padang Lawas (Palas) Sumut kini bisa bersuka ria. karena jalan yang menghubungkan Desa Pagur, Kabupaten Mandailing Natal ke Kabupaten Padang Lawas yang selama ini tertutup oleh hutan lindung di Padang Lawas sedang dibangun melalui program Tentara Manunggal Masuk Desa yang mana ide awal proyek pembangunan jalan ini diinisiasi oleh Edy Rahmayadi disaat menjabat sebagai Pangkostrad. Ini bukti kalau pembangunan tidak mengenal kota dan desa tapi mengedepankan keadilan sosial.

Itulah jawaban dari masyarakat Sumatera Utara kenapa Edy Rahmayadi yang sering disapa dengan sebutan ayah sangat layak dan terbukti diberikan gelar sebagai BAPAK PANCASILA SUMATERA UTARA.

Pendapat Anda