Tak bisa dipungkiri, Indonesia kini memasuki era digital. Apalagi, negara dengan jumlah penduduk lebih dari 265 Juta jiwa ini, 56% diantaranya atau sekitar 132,7 juta jiwa adalah pengguna internet aktif, itu belum termasuk mereka yang memiliki lebih dari 2 gadget atau perangkat untuk mengakses internet. Lalu apa plattform yang paling banyak mereka akses di internet? Jawabannya adalah sosial media, baik itu Facebook, Instagram, Youtube, Twitter dan lain sebagainya. Angkanya terbilang cukup fantastis, yakni sekitar 120 juta pengguna (data Hootsuite, Januari 2018).

Lantas, peluang apakah yang bisa kita lihat dari potensi ini? Tentu saja ini adalah tentang potensi sosial media sebagai alat promosi atau kampanye  yang sangat efektif di era digital saat ini. Apalagi, penduduk Indonesia kini didominasi oleh kaum muda atau yang kini familiar dengan sebutan generasi millenial, yang dikenal sangat dekat dengan dunia digital.

“Komposisi penduduk kita, tentu ini suatu harapan bahwa kita punya penduduk usia muda yang besar yaitu 90 juta milenial (berusia 20-34 tahun), total fertility rate (angka kelahiran) 2,28 (per 1.000 orang per tahun), angka kematian anak 24 (per 1.000 kelahiran), angka harapan lama sekolah masih 12,72 tahun,” kata Bambang Brodjonegoro, Kepala Bappenas di Gedung Badan Pusat Statistik (BPS), Rabu (14/2/2018).

Efektifitas Sosial Media Sebagai Alat Branding Politik

Secara global, penggunaan sosial media sudah terbukti ampuh di berbagai kontestasi politik, seperti di Pemilu Amerika Serikat maupun di negara – negara maju lainnya. Di Indonesia sendiri, kekuatan sosial media sebagai “perangkat kampanye” sudah banyak terbukti efektifitasnya dalam berbagai kontestasi politik, seperti Pilkada DKI Jakarta 2012, Pemilu 2014, Pilkada DKI Jakarta 2017, hingga Pilkada Serentak 2018.

Bisa kita nilai sendiri, banyak beberapa tokoh politik yang sukses membentuk branding politiknya melalui sosial media, diantaranya yang paling populer adalah Ridwan Kamil (Gubernur Jawa Barat), Anies Baswedan (Gubernur DKI Jakarta), Basuki Tjahaja Purnama (Mantan Gubernur DKI Jakarta), Joko Widodo (Presiden Republik Indonesia), Sandiaga Uno (Calon Presiden RI), dan lain sebagainya.

Selain bisa mengupdate kegiatan sehari – hari, sosial media juga memungkinkan mereka untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat melalui kolom komentar, atau secara personal melalui fitur pesan langsung (direct message).

Selain itu, media sosial juga dilengkapi fitur iklan berbayar yang memungkinkan setiap penggunanya untuk memperluas jangkauan kontennya ke beberapa pengguna sosial media berdasarkan umur, minat dan wilayah tertentu.

Pentas Pemilu 2019, Eranya Kampanye Sosial Media

Melihat perkembangan politik saat ini, tidaklah berlebihan jika kita memandang Pemilu 2019 mendatang adalah eranya kampanye sosial media. Dari sinilah, para calon anggota legislatif  seharusnya mampu melihat sosial media sebagai pilihan yang tepat untuk membentuk “ketokohannya” di tengah – tengah masyarakat.

Dengan kata lain, kita harus menyadari bahwa dunia kini sudah berkembang cepat, dan hadirnya era digital memang tidak bisa dihindarkan. Untuk apa bertahan dengan pola – pola lama, jika toh akhirnya masyarakat sudah beralih pada plattform baru, yakni sosial media.

Pendapat Anda